Jumat, 26 Oktober 2012

pengertian filsafat dan hubungan filsafat dengan filsafat fakultas tarbiyah


KATA  PENGANTAR

            Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, dan hidayahnya yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
            Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kami sampaikan kepada semua pihak terutama teman-teman yang telah membantu baik moril maupun spirituil sehingga penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan lancar dan baik.
            Juga ucapan terima kasih kami sampaikan kepada yang terhormat bapak Sukur Pane, S.Pd, M.Pd. selaku dosen bidang studi Filsafat Ilmu  yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah  ini.
            Ibarat pepatah “Tak ada gading yang tak retak”, begitu pula dengan makalah ini kami yakin masih banyak kekurangan-kekurangannya. Untuk itu kami mengharapkan saran-saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.
            Dengan segala kerendahan hati, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam upaya meningkatkan prestasi.
            Akhir kata, semoga makalah ini dapat menjadi amal ibadah kami dalam mengemban amanah Allah SWT. Amin ....


                                                                                    Bangkalan, 16 Maret 2012

                                                                                                  Penyusun
                                                                                                Kelompok II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................         I
DAFTAR ISI...............................................................................................................         II
BAB I    PENDAHULUAN........................................................................................        1
1.1      Latar Belakang...................................................................................................          1
1.2      Rumusan Masalah..............................................................................................          2
1.3      Tujuan................................................................................................................          2

BAB II   PEMBAHASAN..........................................................................................         3
2.1     Pengertian Filsafat…………............................................................................           3
2.2     Hubungan Filsafat dengan Filsafat Fakultas tarbiyah........................................         7
BAB III   PENUTUP..................................................................................................         11
3.1      Kesimpulan........................................................................................................        11

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................         12


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kata filsafat atau falssafat, berasal dari bahasa yunani, kalimat ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijksanaan (Ali, 1986:7). Hasan Shadily (1984:9) mengatakan bahwa filsafat menurut asal katnya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu pengertian bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
      Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher (Inggris), dan orang arab menyebutnya Failasuf, kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi filosof. Pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
Filsafat dibutuhkan manuisa dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai lapangan kehidupan manusia, jawaban itu merupakan hasil pemikiran yang sistematis, integral, menyeluruh dan mendasar. Jawaban seperti utu juga digunakan untuk mengatasi masalah-maslah yang menyangkut berbagai biddang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan.
Sedangkan Filsafat pendidikan merupakan salah satu ilmu terapan, adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru khususnya.
Karena fungsi filsafat sangat penting dalam pendiddikan , maka fakultas tarbiyah sebagai fakultas yang mencetak atau memproduksi calon pendidik, maka dalam fakultas tarbiyah mata kuliah filsafat pendidikan merupakan MKDK ( Mata Kuliah Dasar Khusus ) yang wajib diikuti oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Tarbiyah. Sesuai dengan namanya tarbiyah yang berarti pendidikan. Sebagai pendidik, meraka diharapkan dapat membantu dalam memecahkan problema-problema yang ada dalam pendidikan islam.

1.2.Rumusan Masalah
a.       Bagaimana Pengertian Filsafat
b.      Bagaimana Hubungan Filsafat dengan Filsafat Fakultas Tarbiyah
1.3.Tujuan
a.       Untuk mengetahui Pengertian Filsafat
b.      Untuk mengetahui Hubungan Filsafat dengan Filsafat Fakultas Tarbiyah


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Filsafat
            Kata filsafat atau falssafat, berasal dari bahasa yunani, kalimat ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijksanaan (Ali, 1986:7). Hasan Shadily (1984:9) mengatakan bahwa filsafat menurut asal katnya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu pengertian bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
            Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher (Inggris), dan orang arab menyebutnya Failasuf, kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi filosof. Pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
            Dalam pengertian luas Harol Titus, mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut:
1.      Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
2.      Filsafat addalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
3.      Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4.      Filsafat adalah analisa logis dari bahsa serta penjelasan tentang arti konsep.
5.      Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat (Jalaluddin dan Said, 1994:9).
Selanjutnya Imam Barnadib menjelaskan, filsafat sebagai pandangan yang menyeluruh dan sistematis. Dikatakan menyeluruh karena filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan melainkan juga suatu pandangan yang dapat menembus ssampai dibalik pengetahuan itu sendiri. Dengan pandangan yang demikian lebih terbuka kemungkinan untuk menemukan hubungan dan pertalian antara semua unsur yang dipertinggi, dengan mengarahkan perhatian dan kedalaman mengenai kebajikan. Dikatakan sistematis karena filsafat menggunakan berfikir secara sadar, teliti dan teratur sesuai dengan hokum-hukum yang ada. Secara rinci Harun Nasution berpendapat, filsafat ialah berfikir menurut tata tertib (logika), bebas (tidak terikat pada tradisi, serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.(Nasution, 1973 : 24).
Berfikir yang seperti ini Jujun S. Suriasumantri adalah sebagai karakteristik dan berfikir filosofis. Ia berpandangan bahwa berfikir secara filsafat merupakan cara berpikir radikal, sistematis, menyeluruh dan mendasar untuk sesuatu permasalahan yang mendalam. Berfikir secara spekulatif termasuk juga dalam rangkaian berfikir filsafat. Yang dimaksud berfikir spekulatif itu adalah berfikir dengan cara merenung, memikirkan segala sesuatu tersebut. Tujuannya adalah untuk mengerti hakikat sesuatu (Noor Syam, 1986).
Karena pemiikiran-pemikiran yang bersifat filsafat didasarkan atas pemikiran yang bersifat spekulatif, maka nilai-nilai kebenaran yang dihasilkannya juga tak terhindarkan dari kebenaran yang spekulatif. Hasilnya akan sangat tergantung dari pandangan filosof yang bersangkutan. Oleh karena itu, pendapat yang baku dan diterima oleh semua orang agak sulit diwujudkan. Padahal kebenaran yang ingin dicapai oleh filsafat ialah kebenaran yang bersifat hakiki, hingga nilai kebenaran tersebut dapat dijadikan pandangan hidup manusia.
Mengingat dala berfilsafat dominan menggunakan nalar manusia, maka kebenaran yang dihasilkannya didasrkan atas penilaian kemampuan maksimal menurut nalar manusia. Sedangkan nalar manusia bersifat terbatas makanya kebenaran yang didapat adalah kebenaran yang bersifat relatif. Dalam kaitan itu Muhammad Noor Syam menjelaskan bahwa:
Filsafat adalah suatu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif). Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikiran manusia filsafat mencoba mengerti, menganalisa, menilai dan menyimpulkan semua persoalan secara mendalam. Meskipun kesimpulan-kesimpulan filsafat bersifat hakiki namun masih relatiif dan subyektif. Kedua sifat terakhir ini tak mungkin dapat dihindarkan karena adanya sifat-sifat alamiah (kodrat) pada subyek yang melakukan aktivitas filsafat itu sendiri, yaitu manusia sebagai subyek selalu dalam proses pekembangan baik jasmani dan rohani terutama pada subyek yang cenderung memiliki watak subyektivitas, akan melahirkan kesimpulan-kesimppulan yang subyektivitas pula. Factor-faktor inilah yang melahirkan aliran-aliran filsafat dan perbedaan-perbedaan dalam filsafat (Ibid, 1986:16)
Dengan demikian kebenarann filsafat adalah kebenaran yang relative. Artinya kebenaran itu sendiri selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan zaman dan perdaban manusia. Bagaimanapun penilaian tentang sesuau kebenaran yang dianggap benar itu masih sangat tergantung oleh ruang dan waktu. Apa yang dianggap benar oleh masyarakat atau bangsa lain, belumlah tentu akan dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain, meskipun dalam kurun waktu yang sama. Sebaliknya sesuatu yang dianggap benar oleh sesuatu masyarakat atau bangsa tertentu dalam suatu zaman, akan berbeda zaman berikutnya. Maka adalah wajar jika pengertian filsafat ini selalu mengalami perubahan.
Dari uraian di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang amat luas (komprehensif) yang berusaha unntuk memahami ppersoalan-persoalan yang timbul didalam keseeluruhan ruang lingkup pengalaman manusia. Dengan demikian diharapkan agar manusia dapat mengerti dan memiliki pandangan yang menyeluruh ddan sistematis mengenai alam semesta dan tempat manusia didalamnya.
Filsafat dibutuhkan manuisa dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam berbagai lapangan kehidupan manusia, jawaban itu merupakan hasil pemikiran yang sistematis, integral, menyeluruh dan mendasar. Jawaban seperti utu juga digunakan untuk mengatasi masalah-maslah yang menyangkut berbagai biddang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan.
Kebenaran yang dimaksud dalam konteks filsafat adalah kebenaran yang tergantung sepenuhnya kepada kemampuan daya nalar manusia. Karena itu kebenaran menurut Plato dan Aristoteles adalah apabila pernyataan yang dianggap benar itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya ( jujun,1984:20-21). Dengan demikian kebenaran berfungsi sebagai tolak ukur antara sesuatu peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Jika cocok dianggap benar dan jika tidak cocok tidak diterima sebagai kebenaran. Kebbenaran yang demikian agaknya cenderung mengandung pengertian yang relatif, sebab bergantung dari ruang dan waktu.
Di zaman yunani, filsafat bukan merupakan suatu disiplin teoritis dan spesialis, akan tetapi suatu cara  hidup yang kongkrit, suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. Selanjutnya dengan kehidupan atau perkembangan peradaban manusia dan problem kehidupan yang dihadapinya, maka pengertian yang bersifat teoritis seperti filsafat yang dilahirkan filsafat yunani kehilangagn kemampuannya untuk member jawaban yang layak tentang kebenaran itu.
Perubahan itu mendorong manusia memikirkan kembali pengertiannya tentang kebenaran atau nilai-nilai kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam peradaban akan berpengaruh system nilai yang berlaku, karena antara perubahan peradaban dengan cara berfikir manusia terdapat hubungan timbale balik. Perubahan dalam adat dan kebiasaan serta sejarah, biasanya dimulai dengan adanya sekelompok orang yang yakin akan nilai sesuatu ideal atau yang tertarik oleh pandangan hidup yang lain.
Dalam kaitannya dengan pengertian tersebut, Imam Barnadib memandang filsafat sebagai pandangan yang menyeluruh dan sistematis. Dikatakan menyeluruh karena filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan, melainkan suatu pandangan yang dapat menembus sampai dibalik pengetahuan itu sendiri. Selanjutnya melalui pandangan yang demikian  terbuka kemungkinan untuk menemukan hubungan dan pertalian antara semua unsur yang dipertinggi, dengan mengarahkan perhatian dan kedalaman mengenai kebijakan. Dikatakan sistematis karena filsafat menggunakan berfikir secara sadar, teliti, teratur, sesuai dengan hokum-hukum yang ada.
Dalam pengertian yang lebih luas, Harold H. Titus mendefinisikan filsafat sebagai berikut:
1.      Falsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
2.      Falsafah adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
3.      Falsafah adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4.      Filsafat adalah analisa logis dari bahsa serta penjelasan tentang arti konsep.
5.      Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat. (Titus, 1984:14)
Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa sulit untuk merangkum pengertian filsafat itu dalam sebuah definisi yang lengkap. Karena pemikiran yang bersifat falsafati didasarkan atas pemikiran yang bersifat spekulatif, maka nilai-nilai kebenaran yang dihasilkannya juga terhindar dari kebenaran yang spekulatif. Hasilnya akan sangat tergantung dari pandangan para filosof itu masing-masing.
Pemikiran falsafi dapat dibedakan dengan pemikiran lain yang bukan falsafi. Pemikiran yang bersifat filsafat setidaknya memiliki ciri-ciri yang jelas. Antara lain berfikir falsafi tertuju kepada upaya untuk mengadakan pemeriksaan dan penemuan. Kemudian berfikir radikal, mengarahkan pandangan pada mengapa yang terakhir (akhir segala sesuatu) dengan menggunakan kemampuan yang optimal dari akal manusia. Fakta yang terlihat adalah hasil tujuan dan penelitian dalam kaitannya dengan suatu bentuk interpretasi dalam konteks dengan lingkungan yang lebih luas.


2.2. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Fakultas Tarbiyah
            Filsafat merupakan kegiatan reflektif dan merupakan kegiatan akal budi, tetapi juga merupakan perenungan dan merupakan suatu tahap lebih lanjut dari kegiatan rasional umum.Yang direfleksikan adalah pada prinsipnya apa saja, tanpa terbatas pada bidang atau tema tertentu. Tujuannya untuk memperoleh kebenaran yang mendasar, menelusuri makna dan inti segala inti. Oleh karena itu filsafat merupakan eksploitasi tentang hakikat realita yang ada dalam kegiatan manusia ( Bakar & Zubair, 1990:15).
            Masalah pendidikan merupakan hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan keduanya adalah merupakan proses yang satu. Masalah pendidikan tidak dapat dipecahkan keseluruhan hanya dengan menggunakan metode ilmiah semata-mata, akan tetapi untuk memecahkan masalah pendidikan seseorang harus menggunakan analisa filsafat.
            Kedudukan filsafat dalam pendidikan, dinyatakan sebagai fundamental, yang pada dasarnya tidak dapat diganti oleh mata kuliah dasar lainnya. Filsafat merupakan sumber nilai dan norma hidup yang menentukan warna dan martabat hidup manusia mendukungnya dan meyakininya, guru adalah pelaksana kegiatan menambahkan nilai dan norma pendidikan, maka filsafat akan memberikan sumber-sumber dasar dan pedoman yang menentukan arah dan tujuan nilai secara normativ akan di tanamkan dengan jalan mendidiknya ( Saifullah, 1982:12).
            Filsafat merupakan pandangan hidup menentukan arah dan tujuan proses pendidikan, karena itu filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Pendidikan itu pada hakikatnya adalah proses pewarisan nilai-nilai filsafat yang dikembangkan, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik dari keadaan yang sebelumnya. Sebagai seseorang pendidikan atau calon pendidik di harapkan terlebih dahulu belajar filsafat pendidik, agar dapat mentransfer nilai-nilai dan norma yyang terkandung dalam filsafat.
            Filsafat pendidikan merupakan salah satu ilmu terapan, adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru khususnya.
            Karena fungsi filsafat sangat penting dalam pendiddikan , maka fakultas tarbiyah sebagai fakultas yang mencetak atau memproduksi calon pendidik, maka dalam fakultas tarbiyah mata kuliah filsafat pendidikan merupakan MKDK ( Mata Kuliah Dasar Khusus ) yang wajib diikuti oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Tarbiyah. Sesuai dengan namanya tarbiyah yang berarti pendidikan. Sebagai pendidik, meraka diharapkan dapat membantu dalam memecahkan problema-problema yang ada dalam pendidikan islam.
Fakultas Tarbiyah pada dasarnya mengembangkan pendidikan Agama Islam yang bertujuan:
a)      Membentuk manusia muslim Indonesia yang berciri intelektualitas di tengah-tengah kehidupan yang sejahtera yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang mempunyai integritas kejujuran dan intelektual serta keahlian dalam satu atau lebih dalam ilmu Tarbiyah.
b)      Menghasilkan ahli pendidikan yang sesuai dengan profesionalitas yang mampu berpikir inovatif dalam mengembangkan pendidikan keilmuan di bidang pendidikan Islam dan Pendidikan umum, serta mampu menerapkan pengembangannya serta mengkomunikasikan ide-ide dan nilai-nilai pendidikan nasional dalam menghadapi perubahan social dan memimpin modernisasi.

Upaya peningkatan kualitas lulusan (output) Fakultas Tarbiyah yang menghendaki adanya nilai relevansi terhadap permintaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Seharusnya  dibidang kependidikan Islam dalam kondisi masyarakat sekarang ini maka Fakultas Tarbiyah dapat memberikan upaya pemecahan dalam masalah kependidikan Agama Islam yang menjadi keinginan masyarakat antara lain:
a). masyaarakat menginginkan lulusan Fakultas Tarbiyah dapat berperan sebagai pendidik, intelektual, pemikir (innovator) pembangunan dan sebagai agen pembangunan (agen of development)
b). di harapkan mampu berperan dan memfungsigandakan alumninya lebih luas dalam mental material masyarakat.
c). di harapkan dapat berpartisipasi aktif dalam mengisi pembangunan masyarakat umumnya dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui nilai-nilai kependidikan islam (RIP-FT IAIN Raden Fatah, 1995:9). Untuk mencapai tujuan ideal Fakultas tarbiyah dalam memenuhi kendala yang berhubungan dengan pendidikan ketarbiyahan.

Fakultas tarbiyah yang berkecimpung dalam masalah kependidikan dengan problema-problemanya, maka keberadaan filsafat pendidikan tidak bisa diabaikan dan karenanya sangat perlu dipelajari dan diperdalami. Menurut Woodsidge dalam Barnadib (1994:16) mempelajari dan memperdalam filsafat pendidikan khususnya bagi mereka yang bergelut dengan ilmu pengetahuan dan keguruan, yang mempunyai bebrapa alasan:
a). munculnya problem pendidikan dari masa ke masa yang menjadi perhatian para ahli (experts) masing masing. Pendidikan merupakan uasaha manusia meningkatkan kesejateraaan lahir dan batin suatu bangsa dan masyarakat. Buah pikiran seorang ahli yang bercorak dan bergagasan berlandaskan filsafat seringkali mempengaruhi aihli piker yang lain.
b). dengan mempelajari filsafat pendidikan akan memiliki wawasan yang luas dan didapat secara eksperimental dan empiric. Karenanya filsafat pendidikan merupakan bekal dalam meninjau pendidikan problemanya secara kritis.
c). memepelajari filsafat juga mempengaruhi tuntutan intelektual dan akademik hal dikarenakan filsafat meletakkan landasan berfikir logis, sistematis, kritis dan teratur, karenanya berfilsafat pendidikan diharapkan memenuhi kemamapuan semacam itu sehingga berpengaruh pada pembentikan pribadi. Pendidik yang baik, dan dengan mempelajarinya akan memiliki sikap optimisme dan motivasi serta menggembirakan.

Hubungan filsafat pendidikan dengan program fakultas tarbiyah merupakan hubungan yang sangat erat dan mempunyai nilai relevansi yang tnggi. Hal ini disebabkan keberadaan filsafat pendidikan akan membantu memecahkan persoalan pendidikan islam dan dapat memebentuk kepribadian pendidik, anak didik atau calon pendidik dan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan, sehingga nalurinya diharapkan tercipta manusia yang beriman, bertaqwa dan berbudi luhur serta berketermpilan memang dapat terwujud, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa untuk menjamin agar pendidikan itu benar dalam peosesnya efektif , maka dibutuhkan landasan, terutama landasan bersifat filosofis maupun landasan ilmiah sebagai asas normativ, dan juga sebagai pedoman pelaksanaan pendidikan . filsafat pendidikan merupakan sumber ide pendidikan yang menentukan pendidikan, memberi arah dan pedoman sekaligus menjadi tujuan pendidikan itu sendiri.
Fakultas tarbiyah adalah merupakan bagian dari lembaga pendidikan, filsafat yang menjadi landasan pendidikannya adalah ajaran islam. Dengan demikian filsafat pendidikan islam merupakan landasan pokok dari program fakultas tarbiyah, dikarenakan secara realita fakultas tarbiyah adalah suatu lembaga pendidikan yang dinafasi oleh ajaran islam
Dasar dan tujuan filsafat pendidikan islam pada hakikatnya identik dengan dasar tujuan ajaran islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, alquran dan al hadist rosulullah (jalaluddin dan said 1994:19). Menurut omar Muhammad al tomi al zaibani, filsafat pendidikan islam sebagaimana filsafat pendidikan umum, adalah merupakan pedoman bagi perancang dan orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran islam. Filsafat pendidikan islam pada hakikatnya merupakan landasan dasar bagi penyusunan suatu system pendidikan. Pemikiran filsafat pendidikan islam menjadi pola dasar bagi para ahli pendidikan islam mengenai bagaimana system pendidikan yang dikehendaki dan sesuai dengan konsep ajaran islam, yang berhubungan dengan pendidikan
Adapun tujuan pendidikan islam itu herus sejalan dengan tujuan isi islam itu sendiri, yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlaqulkarimah. Tujuan tersebut sangat relevan dengan tujuan yang terkandung dalam tugas kenabian yang diemban oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam suatu hadis dikatakan bahwa “sesungguhnya aku diutus adalah untuk membimbing manusia agar mencapai akhlak yang mulya”.
Kemuliaan akhlak adalah factor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan, menurut pandangan islam pendidikan berfungsi menyiapkan manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan di akhirat.
Dalam kaitannya dengan program tarbiah secara impisif apa yang menjadi tujuan pendidikan islam adalah juga merupakan tujuan dari pendidikan tarbiah, hal tersebut terdapat pada catalog fakultas tarbiah IAIN Raden Fatah Palembang, fakultas tarbiah bertujuan mencetak dan menghasilkan muslam intelek, bermoral dan bertanggung jawab.
Dengan demikian filsafat pendidikan, dalam hal ini filsafat pendidikan islam mempunyai hubungan yang erat sekali dalam peranannya sebagai sumber idealisme pada program pendidikan fakultas tarbiyah dalam menyiapkan dan menghasilkan sarjana pendidikan muslim yang sesuai dengan tujuan pendidikan program fakultas tarbiyah.


BAB III
                                                                    PENUTUP
3.1. Kesimpulan
            Kata filsafat atau falssafat, berasal dari bahasa yunani, kalimat ini berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijksanaan (Ali, 1986:7). Hasan Shadily (1984:9) mengatakan bahwa filsafat menurut asal katnya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu pengertian bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.
            Orang yang ahli dalam berfilsafat disebut philosopher (Inggris), dan orang arab menyebutnya Failasuf, kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi filosof. Pemikiran secara filsafat sering diistilahkan dengan pemikiran filosofis.
            Dalam pengertian luas Harol Titus, mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut:
1.      Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
2.      Filsafat addalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
3.      Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan.
4.      Filsafat adalah analisa logis dari bahsa serta penjelasan tentang arti konsep.
5.      Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat (Jalaluddin dan Said, 1994:9).

Hubungan filsafat pendidikan dengan program fakultas tarbiyah merupakan hubungan yang sangat erat dan mempunyai nilai relevansi yang tnggi. Hal ini disebabkan keberadaan filsafat pendidikan akan membantu memecahkan persoalan pendidikan islam dan dapat memebentuk kepribadian pendidik, anak didik atau calon pendidik dan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan, sehingga nalurinya diharapkan tercipta manusia yang beriman, bertaqwa dan berbudi luhur serta berketermpilan memang dapat terwujud, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Daftar Pustaka
Abdulhak, Ishak. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jalaluddin. 1997. Filsafat Pendidikan.Jakarta: Gaya Media Pratama.






1 komentar: